Remaja adalah generasi yang sedang membangun sistem imun sosialnya. Sama halnya seperti tubuh yang memiliki sistem imun untuk melawan suatu penyakit, remaja juga memiliki sistem imun sosial untuk melawan segala tantangan zaman yang penuh lika liku dan segala perubahan zaman yang wajib dihadapi akibat perkembangan sosial, ekonomi, pendidikan dan teknologi. Jika dalam tubuh manusia, terdapat 2 jenis sistem imun, yakni sistem imun adaptif dan imun bawaan, yang mana sistem imun bawaan bekerja dengan cara yang sama terhadap semua penyakit sebagai perlindungan awal. Sedangkan sistem imun adaptif berkerja secara spesifik dengan belajar mengingat dan menyimpan memori sebagai perlindungan jangka panjang. Maka, bagi remaja, sistem imun bawaan sosial dapat diumpamakan sebagai langkah langkah atau tata cara yang cepat sebagai preventif yang dapat melindungi dari kerusakan sejak dini seorang remaja, sementara itu, sistem imun adaptif sosial berkembang melalui proses dan keberlanjutan pembelajaran, dengan edukasi yang konsisten akan membentuk sistem memori sehingga siap dalam melawan tantangan dihari-hari yang dilewati. Apabila ditarik dari penganalogian diatas dapat diketahui bahwa peran sistem imun sosial pada remaja sangat krusial. Lantas,apakah sistem imun sosial saat ini dapat menghantarkan remaja untuk bisa menghadapi krisis, tantangan, dan segala permasalahan global? 12 Agustus 2025, ditetapkan sebagai hari remaja internasional, dari 365 hari tersisip 1 hari yang diperingati sebagai hari remaja, ini bukan sekadar memperingati, namun sebagai dasar untuk kembali merefleksi kondisi remaja saat ini apakah mereka sudah cukup kritis dalam menangapi suatu permasalahan, atau malah terjebak dalam lingkar ketumpulan pengetahuan? Apakah mereka sudah cukup mampu menganalisis lingkungan sosial sebagai langkah menuju pendewasaan atau masih terjebak dalam sistem imun sosial yang masih belum terarah? Indonesia adalah bangsa yang kaya, subur dan beragam, dalam dasar negara tercermin cita-cita bangsa yang luar biasa apiknya, dalam Pancasila tergambar pandangan hidup bangsa yang sangat terstruktur, mengatur masyarakat untuk hidup damai dan bersatu, namun bagaimana fakta yang terdapat dilapangan saat ini? Hutang negara yang meningkat, korupsi yang mencapai triliunan, kriminalitas akibat angka penganguran yang tinggi, kemiskinan yang mengakar, kesenjangan ekonomi yang begitu terlihat. Semua ini terus menerus muncul sebagai berita yang kian menambah kecemasan anak-anak bangsa, lambat laun jika terus terjadi para penerus bangsa ini akan menormalisasikan tindakan yang sangat tidak etis. Belum lagi penggunaan gawai yang meningkat dikalangan remaja, tak sedikit konten yang menunjukan penurunan integritas sebagai seorang remaja terpelajar, mereka terus terpapar oleh alogritma-algoritma yang membentuk cara berfikir dan cara berperilaku. Remaja didorong untuk cakap teknologi, tetapi tumpul daya kritisnya. Terlalu fokus pada penguasaan gawai hingga lupa cara mengkritisi informasi.
Sebenarnya, mau dibawa kearah mana remaja Indonesia saat ini? Jawaban itu dapat kita lihat dari keadaan dan kesiapan kita saat ini. Bagaimana cara kita membimbing remaja, bagaimana cara sistem sosial mendidik seorang remaja agar tumbuh pada lingkungan yang tepat dan nyaman. Kita bukan hanya manusia-manusia yang hidup berdampingan. Kita adalah satu kesatuan seperti arti dari Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu iua. Maka, mari kita membangun keadaan sosial yang baik, dimulai dari diri kita, adik kita dan anak-anak kita. Mari membangun keadaan sosial yang dapat menyejahterakan anak cucu kita, dengan membimbing setiap langkah anak bangsa. Mari membangun keadaan sosial yang aman, baik di lingkungan nyata maupun dalam dunia digital, dengan menjaga segala tindak tanduk kita, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari hari ini, untuk masa depan yang lebih baik.
